
Headlines | Tue, Mar 8, 2011 at 02:05 | Jakarta, matanews.com

Dugaan adanya politik intel di balik usulan hak angket pembentukan pansus mafia pajak mulai disadari PKS. Namun, PKS tidak menyesalinya walau harus menanggung risiko kemungkinan dibuang dari koalisi. Sebab, apa yang dilakukan masih dalam bingkai memperjuangkan kepentingan rakyat.
Wasekjen PKS Mahfudz Siddiq tidak menutup mata tentang adanya upaya men-jorokin PKS lewat usulan hak angket mafia pajak yang berbuntut kisruh koalisi.
“Memang terbaca adanya skenario ke arah itu. Pertama kita diajak, kita maju, dan setelah itu di-jorokin,” kata Mahfudz di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin 7 Maret 2011.
PKS kini menjadi salah satu partai selain Golkar yang terancam dibuang SBY dari daftar mitra koalisi pemerintah. Ancaman itu diterjemahkan dari maklumat SBY yang menyebutkan ada satu dua partai yang tidak sejalur lagi dengan koalisi.
SBY mengumumkan itu hanya beberapa hari setelah rapat paripurna DPR menolak usulan hak angket pembentukan pansus mafia pajak yang diperjuangkan habis-habisan oleh PKS dan Golkar.
Sebelumnya pengamat politik dari UI Boni Hargens juga sempat menengarai tentang adanya praktik politik intel dalam usulan angket tersebut. Tujuannya adalah membuang PKS dari koalisi karena dianggap terlalu sering bermanuver politik di parlemen terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah.
Walau sudah menyadari, menurut Mahfudz, PKS tidak menyesali atas semua yang dilakukannya itu karena niatnya memang murni untuk memperjuangkan kepentingan rakyat, yakni mengoptimalkan pemasukan negara dari sektor pajak.
Ia mengaku, saat ini PKS dalam posisi menunggu sikap Presiden SBY. Tetap mempertahankan atau menggusur PKS dari koalisi.
Para petinggi PKS pun sudah berulangkali menyatakan siap menerima apa pun putusan presiden. “Di luar atau di dalam koalisi sama saja bagi kita. PKS sudah berpengalaman dalam beroposisi,” ungkap mantan Presiden PKS Hidayat Nur Wahid, pekan lalu. (ham)
http://matanews.com/2011/03/08/akhirnya-pks-sadar-dijorokin/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar