

USMAN Hamid berorasi di atas mobil pembawa pengeras suara. Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan ini berada dalam kelompok Gerakan Indonesia Bersih yang berdemonstrasi memperingati seratus hari pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono di depan Istana Negara, Kamis pekan lalu. Pada saat yang sama, di atas mobil berbeda, hanya tujuh meter dari tempat Usman manggung, Sultoni dan Vivi Widyawati, aktivis Front Oposisi Rakyat Indonesia, juga bergantian berorasi keras-keras.
Kedua kelompok berpidato hal yang sama: Presiden Yudhoyono gagal memerintah sehingga harus diganti. ”SBYBoediono antek kapitalis dan gagal menyejahterakan rakyat,” kata Sultoni. Ribuan pendukung dua kelompok ini berada dalam satu kerumunan tanpa batas. Tak lama, mobil Gerakan Indonesia Bersih bergerak maju mendekati pagar Istana. Front Oposisi tak mau kalah.
Mobil penuh atribut berwarna merah ini ikut merangsek maju. Meneriakkan hal yang sama, pengeras suara kedua kelompok beradu keras. Mengetahui tak efektif, sejenak Usman menghentikan orasi. Ia kemudian bicara dengan Lalu Hilman Afriandi (Ketua Umum Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi, salah satu elemen Gerakan Indonesia Bersih) dan Effendi Ghazali (dosen Jurusan Komunikasi Universitas Indonesia).
Sesaat Usman menunggu jeda orasi Sultoni untuk kemudian berteriak kembali. ”Kawan-kawan, mari rapatkan barisan, tunjukkan kita bersatu,” kata Usman. Sultoni tak mau kalah. ”Komando ada di mobil ini!” katanya berulang-ulang sambil menunjuk panggung tempat ia berorasi. Gerakan Indonesia Bersih dan Front Oposisi adalah dua kelompok penentang pemerintah dengan profil berbeda. Gerakan Indonesia Bersih bertabur ”bintang”. Di dalamnya ada Usman Hamid; Effendi Ghazali; Lalu Hilman; bekas juru bicara Presiden Abdurrahman Wahid, Adhie Massardi; Koordinator Petisi 28 Haris Rusly; dan bekas aktivis Walhi, Ray Rangkuti.
Selain itu, ada dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia Boni Hargens, yang hari itu dikawal sejumlah bodyguard berkaus dengan foto dirinya. Bekas Kepala Staf Angkatan Darat Tyasno Sudarto dan bekas anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Ali Mochtar Ngabalin, juga berhimpun dalam barisan ini. Sehari sebelum demonstrasi, Gerakan Indonesia Bersih menggelar konferensi pers di kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Jalan Cikini Raya, Jakarta. Haris Rusly menyatakan setidaknya 70 elemen berada dalam gerakan mereka.
http://tempointeraktif.com/khusus/selusur/perang.mencari.tumbal/page06.php
Tidak ada komentar:
Posting Komentar