
Jum'at, 04 Maret 2011 , 17:54:00 WIB
Laporan: Arlian Buana Chrissandi

RMOL. Kawasan Timur Tengah bergolak dan satu demi satu diktator berguguran. Terinsiprasi keberhasilan Tunisia dan Mesir, kini Libya, Bahrain, Yaman, dan Sudan menguntit. Revolusi Timur Tengah bergema di seluruh dunia. Kalangan aktivis di Jakarta pun mulai 'gatal' menggerakkan revolusi di Tanah Air.
Tapi dalam pandangan pengamat politik Universitas Indonesia, Bonie Hargens, virus revolusi sangat sulit berkembang di Jakarta. Itu diungkapkannya saat diskusi bersama wartawan dan Ketua DPR Marzuki Alie di Press Room DPR RI, Jumat (4/3). Dalam pandangan Boni, despotisme dan autoritarianisme sangat telanjang di Timteng. Rakyat merasa sudah tidak ada jalan lain menuju perubahan selain melawan. Akibatnya, mudah untuk memobilisasi sebuah gerakan revolusi.
"Sementara di Indonesia, demokrasi ada wujudnya. SBY dipilih oleh kekuatan 60 persen suara rakyat dan akan aman sampai 2014. Semua orang bebas protes dan bersuara," ujarnya.
Namun demikian, Boni tetap kecewa dengan demokrasi Indonesia. "Yang berlaku di sini ialah demokrasi basa-basi. Negara seringkali absen dalam tugas-tugasnya yang mendasar. Ini terlihat jelas kasus kekerasan terhadap Ahmadiyah," tukasnya.
Dalam kesempatan itu pula, Boni mendesak SBY agar membubarkan Setgab koalisi dan jangan lagi menunda-nunda reshuffle untuk pemerintahan yang lebih baik.[ald]
Mantap, Bung Boni... saya yang menulis berita ini. mohon maaf kalau masih banyk kekurangan. maklum, saya masih mahasiswa, dan kemarin iseng-iseng mengisi liburan dengan belajar menjadi wartawan.
BalasHapussukses selalu,
Kapan-kapan, jika ada kesempatan, saya dan teman2 FISIP UIN jakarta akan sangat senang jika bisa berdiskusi dengan Bung Boni :)
BalasHapusSalam.
http://arlianbuana.blogspot.com