Senin, 01-07-2013 15:46
M. Jasri

Boni Hargens
JAKARTA, PESATNEWS - Direktur Lembaga Pemilih Indonesia (LPI) Boni Hargens melihat ada ambisi yang berlebihan terkait wacana pencalonan Wiranto dan Hary Tanoesudibjo (HT) sebagai pasangan calon presiden dan wakil presiden 2014.
Boni menjelaskan bahwa kebijakan Hanura selain berlebihan, juga tidak sesuai dengan kerja politik Hanura serta kadar akseptabilitas partai di tengah masyarakat pemilih.
"Boleh-boleh saja kapital politik Hanura meningkat setelah HT bergabung, tapi akseptabilitas dan elektabilitas tidak bisa dibangun dalam semalam, meskipun dengan kekuatan dana dan jaringan media yang memadai," papar Boni saat dihubungi pesatnews, Senin (1/6/2013).
Boni mencatat bahwa, sikap Hanura akan bijak jika tidak muluk menatap kursi capres, melainkan untuk cawapres dalam satu koalisi saja.
"Pencalonan HT, itu bagian dari pesta demokrasi mas, kan harus ada yang ikut meramaikan seperti Rhoma Irama jadi capres, Eyang Subur atau siapa pun lah, boleh meramaikan pesta ini," tegasnya.
Boni juga tidak menampik jika memang nanti HT, tetap akan dimajukan sebagai cawapres mendampingi Wiranto. Menurutnya, pencalonan tersebut adalah hal yang sah-sah saja.
"Sah-sah saja mas, tapi kan masalahnya partainya mampu gak untuk itu ? Saat ini, gairah HT lebih besar dari realitas politiknya. Mungkin ke depan ada peluang. Ada konteksnya yang pas. Karena saat ini HT belum punya citra yg memadai. HT masih dilihat sebatas orang kaya. Blm dilihat sebagi figur pemimpin," pungkasnya. [*]
Editor : Hasan Basri
http://www.pesatnews.com/read/2013/07/01/30528/pencalonan-ht-bagian-dari-demokrasi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar