
Senin, 14 Maret 2011 18:12 WIB
Penulis: Herybertus Lesek
JAKARTA-MICOM: Pengamat politik Boni Hargens menilai, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tidak pernah menghargai aspirasi dan keinginan kader Demokrat. Meski kader Demokrat berteriak minta reshuffle, SBY ngotot menolak desakan itu. Boni menilai, SBY tidak berani me-reshuffle karena takut kehilangan kekuatan politiknya. "SBY memang tidak pernahmenghargai kader Demokrat kok. Itu tabiatnya," ujar Bonim saat dihubungi Media Indonesia, Senin (14/3). Demokrat, menurutnya, adalah bagian kecil dari SBY. Artinya, Demokrat tidak penting bagi SBY bila berhadapan dengan ancaman terhadap posisi politiknya. | "Demokrat adalah SBY plus. Nah, kader-kader itu plusnya itu, faktor tambahan yang tidak penting dan bisa diabaikan," tegasnya. Karena itu, lanjut Boni, sejak semula dirinya pesimistis bila Ulil Abdalah dan Iskhan Modjo bisa menciptakan demokrasi internal di tubuh Demokrat. Meskipun mereka berkicau untuk reshuffle, SBY tetap yang paling menentukan. Selain itu, kata Boni, arogansi SBY adalah gambaran jelas bahwa dia punya karakter sebagai diktator. Nuansa Politik SBY kuat bermuatan feodal. Kepentingan sendiri lebih dominan daripada aspirasi dari kader demokrat. Boni menilai, SBY takut kehilangan dukungan politik dari Golkar dan PKS. "SBY dalam posisi sulit, dijepit oleh berbagai kepentingan partai, sementara dia sendiri ingin aman sampai 2014. Serangan dari publik dan termasuk dari Wikileaks itu sudah menakutkan buat SBY sehingga dia butuh dukungan kuat dari partai politik. Dia tidak merasa aman dengan Demokrat saja, makanya reshuffle ini betul-betul ditentukan oleh kehendak partai lain seperti PKS dan golkar," ujarnya.(*/OL-11)> |
http://www.mediaindonesia.com/read/2011/03/14/210131/3/1/SBY-Tidak-Pernah-Hargai-Kader-Demokrat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar