03 Juli, 2013

Rabu, 03 Juli 2013 00:50

Elektabilitas Rendah, Wiranto-Hary Tanoe Cuekin Survei



  
Elektabilitas Rendah, Wiranto-Hary Tanoe Cuekin SurveiJAKARTA  (BM) - Partai Hanura secara resmi mendeklarasikan Wiranto-Hary Tanoesoedibjo sebagai capres dan cawapres untuk pilpres 2014. Deklarasi pasangan Wiranto-Hary Tanoe yang diadakan di hotel Grand Mercure, dihadiri lebih dari 1.000 kader Hanura.

Wiranto-Hary Tanoe mengaku menghiraukan hasil survei saat memutuskan maju pada Pemilu 2014 mendatang. "Untuk berangkat jadi calon presiden, kami tidak berangkat dari hasil survei yang macam-macam itu," kata Wiranto seusai deklarasi pencalonan mereka, Selasa (2/7).

Wiranto mengklaim keputusan mengajukan dia dan Hary Tanoe, pemilik grup media MNC, berdasarkan keinginan rakyat. "Rakyat menginginkan partai yang bersih, Hanura bersih. Tidak ada kader Hanura yang terlibat korupsi," katanya.

Kendati mengabaikan hasil survei, Wiranto tetap memperhatikan hasil-hasil kajian lembaga survei, terutama yang membahas keterpilihan partai. Ia mengklaim Partai Hanura selalu berada pada urutan empat teratas. "Elektabilitas kami saat ini 7,2 persen," katanya.

Ketua Dewan Pertimbangan Partai Hanura Hary Tanoemengaku bahwa penetapan dirinya sebagai bakal calon wakil presiden di Pemilu 2014 atas permintaan partai. Hary mengaku mau menerima tawaran mendampingi Wiranto setelah prihatin atas kondisi bangsa Indonesia.

"Setelah diskusi panjang lebar dengan Pak Wiranto, kami punya visi dan misi yang sama, yaitu memperbaiki bangsa, mengabdi kepada rakyat untuk mengubah jadi lebih baik. Itu yang melatarbelakangi saya bersedia dicalonkan menjadi calon wakil presiden dari Hanura," katanya.

Sementara deklarasi pasangan Wiranto-Hary Tanoe ditanggapi dingin oleh sejumlah pengamat. Deklarasi  yang dilakukan dinilai hanya sebuah strategi untuk mendongkrak citra partai tersebut. Padahal, unsur ketokohan keduanya sangat rendah dan tak akan mampu memberi dampak signifikan untuk mendongkrak elektabilitas Hanura.

"Targetnya, kapitalisasi untuk mengangkat Hanura, karena tingkat elektabilitasnya (Hanura) rendah," kata pengamat politik dari Universitas Gadjah Mada, Arie Sudjito.

Arie menjelaskan, analisanya didasari oleh perolehan suara Wiranto pada pemilihan presiden pada 2004 dan 2009. Pada pilpres 2004, Wiranto menjadi capres berpasangan dengan cawapres Salahudin Wahid. Pilpres 2009, Wiranto maju sebagai cawapres mendampingi capres Jusuf Kalla alias JK.

Dalam kedua Pilpres itu, Wiranto gagal. Adapun, Hary Tanoe baru bertama kali akan maju dalam Pilpres. Dia baru bergabung dengan Hanura setelah pindah dari Partai Nasdem. Di Hanura, bos MNC Grup itu menjabat Ketua Dewan Pertimbangan dan Ketua Badan Pemenangan Pemilu.

Terkait itu, Arie sangat yakin bahwa tujuan utama deklarasi Wiranto-Hary Tanoe hanya untuk meningkatkan popularitas dan perolehan suara di pemilihan legislatif. Namun begitu, Arie menganggap rencana itu tak akan berhasil.

"Berat. Kemarin saja kalah, padahal didukung Golkar, apalagi sekarang. Punya HT (Hary Tanoe), tapi tidak menjamin dapat dukungan. Ini hanya manuver agar Hanura diperbincangkan," ujarnya.
 
 Tak kalah sinisnya diungkapkan pengamat politik Universitas Indonesia (UI), Boni Hargens. Menurutnya,  deklarasikan pasangan Wiranto dan Hary Tanoe sebagai ambisi yang berlebihan. Pasalnya, pengusungan keduanya tak diimbangi kerja politik Hanura serta pertimbangan tingkat akseptabilitasnya di masyarakat.

"Hanura tidak bakal mampu mencapreskan siapa-siapa. Paling tinggi memajukan cawapres dalam satu koalisi. Artinya, ide tiga besar dalam pemilu hanya utopia, hanya ambisi berlebihan," kata Boni.

Direktur Lembaga Pemilih Indonesia (LPI) ini memprediksi, perolehan suara Partai Hanura di Pemilu 2014 tak akan lebih dari empat persen. Secara akseptabilitas dan elektabilitas Hanura tak bisa meningkatkannya dalam waktu singkat, meskipun Hary Tanoe memiliki kekuatan finansial dan jaringan media.  Dari sisi figur, menurutnya, Hary Tanoe belum berkompeten untuk diusung sebagai calon wapres.

"Semangat untuk jadi cawapres gede, tapi realitas belum bisa karena belum punya citra yang memadai. HT (Hary Tanoe) masih dilihat sebatas orang kaya, belum dilihat sebagai figur pemimpin,” tandasnya. (jk/rum)
 
 
Sumber :  http://beritametro.co.id/politik/elektabilitas-rendah-wiranto-hary-tanoe-cuekin-survei

Tidak ada komentar:

Posting Komentar