Rabu, 3 Juli 2013 13:22 WITA
JAKARTA,TRIBUNGORONTALO.COM-Pengamat politik Universitas Indonesia (UI), Boni Hargens, deklarasikan pasangan Wiranto
dan Hary Tanoesudibjo sebagai calon presiden dan wakil presiden
sebagai ambisi yang berlebihan. Menurutnya, pengusungan keduanya tak
diimbangi kerja politik Hanura serta pertimbangan tingkat
akseptabilitasnya di masyarakat.
"Hanura tidak bakal mampu mencapreskan siapa-siapa. Paling tinggi memajukan cawapres dalam satu koalisi. Artinya, ide tiga besar dalam pemilu hanya utopia, hanya ambisi berlebihan," kata Boni, Senin (7/1/2013).
Direktur Lembaga Pemilih Indonesia (LPI) ini memprediksi, perolehan suara Partai Hanura di Pemilu 2014 tak akan lebih dari empat persen. Secara akseptabilitas dan elektabilitas, kata dia, Hanura tak bisa meningkatkannya dalam waktu singkat, meskipun Hary Tanoe memiliki kekuatan finansial dan jaringan media. Dari sisi figur, menurutnya, Hary Tanoe belum berkompeten untuk diusung sebagai calon wapres.
"Semangat untuk jadi cawapres gede, tapi realitas belum bisa karena belum punya citra yang memadai. HT (Hary Tanoe) masih dilihat sebatas orang kaya, belum dilihat sebagai figur pemimpin," ujarnya. (*)
"Hanura tidak bakal mampu mencapreskan siapa-siapa. Paling tinggi memajukan cawapres dalam satu koalisi. Artinya, ide tiga besar dalam pemilu hanya utopia, hanya ambisi berlebihan," kata Boni, Senin (7/1/2013).
Direktur Lembaga Pemilih Indonesia (LPI) ini memprediksi, perolehan suara Partai Hanura di Pemilu 2014 tak akan lebih dari empat persen. Secara akseptabilitas dan elektabilitas, kata dia, Hanura tak bisa meningkatkannya dalam waktu singkat, meskipun Hary Tanoe memiliki kekuatan finansial dan jaringan media. Dari sisi figur, menurutnya, Hary Tanoe belum berkompeten untuk diusung sebagai calon wapres.
"Semangat untuk jadi cawapres gede, tapi realitas belum bisa karena belum punya citra yang memadai. HT (Hary Tanoe) masih dilihat sebatas orang kaya, belum dilihat sebagai figur pemimpin," ujarnya. (*)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar