Update: 03/07/2013 13:43
Jakarta - Ketua Umum Partai Hanura Wiranto, dan Ketua Dewan Pertimbangan Partai Hanura Hary Tanoesoedibjo, diusung menjadi calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) dari partai itu untuk Pemilu 2014.Menanggapi hal itu Pakar Komunikasi dan Politik Universitas Mercu Buana, Heri Budianto mengatakan keputusan partai Hanura mengusung capres-cawapres Wiranto-Hari Tanoe sulit dijual kepada publik.
Menurut Heri ada beberapa alasan yakni partai Hanura terlalu pede mengajukan paket capres-cawapres dari kalangan internal. Dimana saat ini publik berharap ada capres alternatif dari kalangan muda.
Selain itu, kata Heri, beberapa hasil survey dari lembaga survey publik merespon positif calon-calon muda alternatif. Saat dimana Hanura harus berjuang keras untuk lolos parlementary thershold agar bisa meloloskan paket ini. Jika mengaju pada realitas politik sekarang dan hasil elektabilitas parpol, Hanura ketinggalan jauh dengan PDIP dan Golkar.
"Saya kira pemilihan Wiranto sebagai capres kurang tepat bagi Hanura. Justru yang lebih menjual adalah Harry Tanoe. Mestinya Hanura menggunakan data lembaga-lembaga survey sebelum memutuskan memajukan calon," kata Heri kepada Centroone.com, Rabu (03/07/2013).
Dia menilai terlalu beresiko bagi Hanura untuk tetap mengusung pasangan ini.
"Saya kira partai-partai lain, justru senang dengan keputusan Hanura. Sebab akan mudah dibaca kekuatan dan strategi komunikasi politik dari Hanura," tegasnya.
Sementara itu Pengamat Politik Universitas Indonesia (UI) Boni Hargens mengatakan bahwa pendeklarasian Wiranto dan Harry Tanoe sebagai capres dan cawapres hanya ambisi politik yang berlebihan dari Hanura yang ingin menunjukkan eksistensi jelang Pemilu 2014.
"Itu ambisi yang berlebihan, tidak sesuai dengan kerja politik Hanura dan kadar akseptabilitas partai di tengah masyarakat pemilih," kata Boni kepada Centroone.com, Rabu (03/07/2013).
Menurut Boni partai peserta nomor urut 10 di Pemilu 2014 diprediksi akan susah meraih presentase tinggi di Pemilu 2014 meskipun ada nama bos media sekaliber HT yang mempunyai kualitas pendanaan tak terhingga.
Namun menurut Boni apa yang nanti dilakukan oleh Hanura untuk pemenangan Wiranto dan HT di Pilpres 2014 semua itu nantinya hanya mimpi bekala.
"Hanura susah meraih di atas 4% saja sudah untung. Tapi boleh-boleh saja kapital politik Hanura meningkat setelah HT bergabung, tapi akseptabilitas dan elektabilitas tidak bisa dibangun dalam semalam, meskipun dengan kekuatan dana dan jaringan media yang memadai," jelasnya.
Boni pun meyakini bahwa partai Hanura akan sulit bersaing dalam Pemilu 2014 dan Hanura diprediksi tidak akan memajukan siapa-siapa.
"Hanura gak bakal mampu mencapreskan siapa-siapa. Paling tinggi memajukan cawapres dalam satu koalisi. Artinya, ide 3 besar dalam pemilu hanya Utopia," tegas Direktur Lembaga Pemilih Indonesia (LPI).
Selanjutnya Pengamat Politik UIN Syarif Hidayatullah, Ahmad Bakir Ihsan mengatakan pencapresan Wiranto-HT merupakan langkah "berani" di tengah capres-capres lain masih wait and see untuk cawapresnya.
Menurut Bakir ada plus minusnya pencapresan model Wiranto-HT ini pertama sejak awal pasangan ini sudah menjadi paket dalam marketing (iklan) dan masyarakat bisa menilai dan memastikan untuk memilih atau tidak.
"Pasangan ini sejak awal harus berjuang betul agar Hanura bisa memenuhi standar minimal suara untuk mengantarkannya sebagai capres, karena capres-cawapresnya berasal dari 1 partai," kata Bakir kepada Centroone.com, Rabu (03/07/2013).
Kendati itu, Bakir berpendapat bahwa kans untuk pasangan ini sampai saat belum "menjanjikan". Dimana dari beberapa survei wiranto belum menunjukkan angka signifikan, sementara untuk HT adalah pendatang baru.
"Jadi tantangannya cukup berat sampai saat ini," imbuhnya.
Namun ketika ditanya apakah duet W-HT ini mampu mendongkrak perolehan suara Hanura pada Pileg 2014 mendatang yang dimana perolehan Pileg bisa mempermudah langkah W-HT maju di Pilpres?
Bakir menyatakan jika suara Hanura akan lebih banyak ditentukan oleh kerja partai, bukan personalitas dari Wiranto dan HT, karena itu nasib capres dan cawapres ini akan ditentukan oleh kerja maksimal partai bukan sebaliknya.
"Karena kalau dilihat dari track record Wiranto dan HT masih belum menjanjikan, paling tidak dari pilpres lalu," tandasnya.
Oleh: Luki Junizar - Editor: Masruroh
Sumber : http://www.loveindonesia.com/news/id/news/detail/223484/duet-wiranto-hary-tanoe-tak-menjual
Tidak ada komentar:
Posting Komentar